Pages

Sabtu, 21 November 2015

BERHIJAB DAN BERAKHLAK MULIA YUK !

BERHIJAB YUK !

BERHIJAB DAN BERAKHLAK, DUA HAL YANG BERBEDA

SUDAH BERJILBAB TAPI MASIH BERAKHLAK TERCELA ?


Assalamualaikum wahai kaum Muslim
 Mungkin sering kita mendengar sebagian dari saudari muslimah berpendapat dengan mengatakan, “Bukankah lebih baik saya memperbaiki diri dulu baru nanti berjilbab, daripada sudah berjilbab tapi kelakuannya masih buruk?”
Untuk menanggapi pendapat dan pertanyaan-pertanyan semacam ini kita harus memahami terlebih dulu tentang apa yang telah Allah ta’ala syariatkan kepada seorang muslimah terkait jilbab. Allah ta’ala telah dengan tegas memerintahkan muslimah untuk mengenakan jilbab. Dalam Kitab-Nya Allah berfirman:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)
Dari kedua ayat ini telah jelas bahwa perintah berjilbab bagi seorang muslimah adalah wajib. Semua ulama’ sepakat tentang wajibnya tubuh seorang muslimah untuk ditutup dan tidak ditampakkan kecuali kepada yang berhak melihatnya. Maka dengan dalil ini bisa dikatakan bahwa menutup aurat dengan berjilbab bagi seorang muslimah bukanlah menjadi suatu hal yang baik lagi bagi dirinya, melainkan menjadi sebuah kewajiban yang tentu di dalamnya akan terdapat banyak kebaikan dan maslahat bagi dirinya.
Hijab atau Jilbab merupakan salah satu penutup aurat wanita muslimah juga  Kerap kali  jadipermasalahan hijab dikaitkan dengan akhlak seseorang. Hingga hampir mencoreng kesucian hijab itu sendiri.
Walau sebenarnya Hijab dan Akhlak merupakan dua hal yang sangat berbeda. Nah disini saya akan menjelaskan bahwa berhijab tapi masih memiliki akhlak yang buruk adalah hal yang sangat berbeda karena berhijab itu merupakan kewajiban yang datangdari Allah SWT untuk kaum Muslimah, sedangkan berakhlak baik ataupun buruk merupakan urusan masing masing pribadi, namun walaupun berhijab dan berakhlak yang baik ataupun buruk bukan suatu urusan yang sama kita sebagai Kaum Muslimah seharusnya dapat menjaga akhlak kita, dan merasa malu jika kita sudah berhijab (menjalankan kewajiban bagi kaum Muslimah) tapi masih mengerjakan hal yang kurang baik.  

Jadi jika kalian mendapati orang yang mencela akhlak kalian dan menghubungkan dengan jilbab yang kalian pakai sehingga membuat hijab atau jilbab kalian menjadi suatu hal yang buruk, maka katakanlah kepada mereka bahwa antara jilba bdan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Berjilbab adalah murni perintah Allah; wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlaknya baik atau buruk. Di lain hal, akhlak adalah budi pekerti yang bergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karena jilbabnya, melainkan karena akhlaknya. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, tapi yang berakhlak mulia pasti berjilbab.
Karena seorang yang berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karna jilbabnya namun karna akhlaqnya.


Sebagaimana perintah Allah SWT mengenai kewajibab berhijab  dalam Al Qur’an Surat an-Nur ayat 31 telah berfirman, yang artinya:
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…”

Dalam firman di atas, telah jelas bahwasanya Allah telah memerintahkan kaum wanita untuk mengenakanjilbab atau hijab. Maka sudah selayaknya kaum wanita taat kepada perintah Allah SWT salah satunya dengan mengenakan hijab atau jilbab yang sesuai dengan aturan Islam.

Selain ada orang yang menghubung-hubungkan akhlak kita dengan hijab yang kta pakai, kerap kali orang awam menanyakan “Lebih baik mana, muslimah yang berjilbab tapi bekelakuan buruk, atau muslimah biasa tak berjilbab tapi kelakuannya baik?”
Kembali pertanyaan ini diulangi agar lebih jelas memaknainya. Poin kedua yang disinggung dalam pertanyaan tersebut adalah soal perilaku atau dalam kata lain adalah tentang akhlak. Maka sama dengan persoalan jilbab tersebut, kedudukan akhlak ini harus ditimbang secara adil melalui dalil. Rasullullah shollallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi)
Dari kedua hadits yang shahih ini telah cukup memberikan pengertian kepada kita bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan dan menganjurkan akhlaqul karimah (akhlak yang mulia) kepada para pemeluknya. Maka setiap muslim maupun muslimah wajib berbuat baik kepada siapa saja sebagai konsekuensi berislamnya dia dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Maka sesungguhnya mengajukan pertanyaan, “Manakah yang lebih baik, muslimah yang berjilbab tapi bekelakuan buruk, atau muslimah biasa tak berjilbab tapi kelakuannya baik?” adalah tidak apple to apple. Pertanyaan ini tidak bisa begitu saja dibandingkan karena pertanyaan ini saling membenturkan antara yang haq dan yang bathil. Berjilbab dan berakhlak baik adalah perintah Allah. Sedangkan meninggalkan jilbab dan berakhlak buruk adalah tidak disukai Allah. Semestinya semua hal ini harus dilakukan dan diamalkan bersamaan. Muslimah itu harus berjilbab dan berakhlak baik serta harus berusaha sekuat mungkin untuk tidak berperilaku tercela.
Melalui sebuah ilustrasi ringan, coba Anda bayangkan. Anda adalah seorang desainer ruangan profesional dan sedang membutuhkan hiasan bunga segar yang indah warnanya dan harum baunya untuk mempercantik ruangan. Lalu seseorang menawarkan dua bunga pada Anda, yang pertama bunga itu berwarna indah dan cantik namun sayang sekali baunya busuk. Bunga yang kedua harumnya semerbak, namun sayang sekali bunga itu sudah layu, tak mempesona sama sekali. Lalu, apakah sebagai seorang ahli yang professional akan memilih salah satu dari bunga tersebut? Tentu Anda tak membutuhkan keduanya.
Jadi, agama Islam ini mengajarkan untuk menjadi sebuah bunga yang indah mempesona dengan aroma harumnya yang semerbak. Islam ini membutuhkan muslimah yang rapi dengan jilbabnya dan mulia dengan akhlaknya. Duhai muslimah, janganlah setengah-setengah dalam mengamalkan Islam. Percayalah semua perintah dari-Nya adalah baik untukmu.
“Tapi lihat itu dia berjilbab namun masih juga suka mencela!”
“Yang sudah berjilbab saja masih bisa mencela, apalagi yang tidak berjilbab?
Nah para Muslimah dari semua hal diatas,bukanlah suatu permasalahan jika kita sudah berjilbab namun masih melakukan dosa atau pelanggaran, karena InsyaAllah jika kita sudah berjilbab dalam artian menunaikan kewajiban sebagai Kaum Muslimah dengan ikhlas karena Allah SWT. perlahan kita dapat merubah Akhlak kita untuk menjadi lebih baik atas izin dan kehendak-Nya dan usaha kita sendiri.
Wallahua’alambishawab...
ENGGAN BERJILBAB HANYA KARENA BELUM SIAP ?
 KEWAJIBAN BERJILBAB BUKAN MASALAH BELUM SIAP ATAU PILIHAN SENDIRI
KEWAJIBAN MENGENAKAN JILBAB

Allah Ta’ala berfirman,‏
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayan g.” (QS.Al Ahzab: 59). 
Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar.Sedangkan khimar adalah penutup kepala.

Allah Ta’ala juga berfirman,
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya .” (QS. An Nuur [24] : 31).
Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar,Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14).

Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian .” (HR. Muslim no. 2128).

Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj SyarhShahih Muslim, 17: 190-191).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik.


BELUM MAU BERJILBAB


Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki?
Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalanhati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan”

Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas?
Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan!
Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing?
Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.”


BERALASAN LAGI KARENA BELUM SIAP BERJILBAB?

Kami jawab, “Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambutubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidaktahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.”

Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan,‏
“Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu .” (HR. Bukhari no. 6416). 
adits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh. Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpanjang angan-angan. Demikian kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas.
Moga di bulan penuh barokah ini, kita diberi taufik oleh Allah untuk semakin taat pada-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.

Wassalamualikum warahmatullahhiwabarakatuh...

0 komentar:

Posting Komentar