BERHIJAB YUK !
BERHIJAB DAN BERAKHLAK, DUA HAL YANG BERBEDA
SUDAH BERJILBAB TAPI MASIH BERAKHLAK TERCELA ?
Assalamualaikum wahai kaum Muslim
Mungkin sering kita mendengar sebagian dari saudari
muslimah berpendapat dengan mengatakan, “Bukankah lebih baik saya memperbaiki
diri dulu baru nanti berjilbab, daripada sudah berjilbab tapi kelakuannya masih
buruk?”
Untuk menanggapi pendapat dan pertanyaan-pertanyan
semacam ini kita harus memahami terlebih dulu tentang apa yang telah Allah
ta’ala syariatkan kepada seorang muslimah terkait jilbab. Allah ta’ala telah
dengan tegas memerintahkan muslimah untuk mengenakan jilbab. Dalam Kitab-Nya
Allah berfirman:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah
mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs.
An-Nuur: 31)
Dari kedua ayat ini telah jelas bahwa perintah
berjilbab bagi seorang muslimah adalah wajib. Semua ulama’ sepakat tentang
wajibnya tubuh seorang muslimah untuk ditutup dan tidak ditampakkan kecuali
kepada yang berhak melihatnya. Maka dengan dalil ini bisa dikatakan bahwa
menutup aurat dengan berjilbab bagi seorang muslimah bukanlah menjadi suatu hal
yang baik lagi bagi dirinya, melainkan menjadi sebuah kewajiban yang tentu di
dalamnya akan terdapat banyak kebaikan dan maslahat bagi dirinya.
Hijab atau Jilbab merupakan salah satu penutup aurat wanita muslimah juga Kerap kali jadipermasalahan hijab dikaitkan dengan
akhlak seseorang. Hingga hampir mencoreng kesucian hijab itu sendiri.
Walau sebenarnya Hijab dan Akhlak merupakan
dua hal yang sangat berbeda. Nah disini saya akan menjelaskan bahwa
berhijab tapi masih memiliki akhlak yang buruk adalah hal yang sangat berbeda
karena berhijab itu merupakan kewajiban yang datangdari Allah SWT untuk kaum
Muslimah, sedangkan berakhlak baik ataupun buruk merupakan urusan masing masing
pribadi, namun walaupun berhijab dan berakhlak yang baik ataupun buruk bukan
suatu urusan yang sama kita sebagai Kaum Muslimah seharusnya dapat menjaga
akhlak kita, dan merasa malu jika kita sudah berhijab (menjalankan kewajiban
bagi kaum Muslimah) tapi masih mengerjakan hal yang kurang baik.
Jadi jika kalian mendapati orang yang mencela akhlak kalian dan
menghubungkan dengan jilbab yang kalian pakai sehingga membuat hijab atau
jilbab kalian menjadi suatu hal yang buruk, maka katakanlah kepada
mereka bahwa antara jilba bdan akhlak adalah dua hal yang berbeda.
Berjilbab adalah murni perintah Allah; wajib untuk wanita muslim yang telah
baligh tanpa memandang akhlaknya baik atau buruk. Di lain hal, akhlak adalah
budi pekerti yang bergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita
berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karena jilbabnya,
melainkan karena akhlaknya. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, tapi
yang berakhlak mulia pasti berjilbab.
Karena seorang yang berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan
karna jilbabnya namun karna akhlaqnya.
Sebagaimana perintah Allah SWT mengenai kewajibab
berhijab dalam Al Qur’an Surat an-Nur
ayat 31 telah berfirman, yang artinya:
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…”
Dalam firman di atas, telah jelas bahwasanya Allah
telah memerintahkan kaum wanita untuk mengenakanjilbab atau hijab. Maka sudah selayaknya kaum wanita taat kepada
perintah Allah SWT salah satunya dengan mengenakan hijab atau jilbab yang
sesuai dengan aturan Islam.
Selain ada orang yang menghubung-hubungkan akhlak kita
dengan hijab yang kta pakai, kerap kali orang awam menanyakan “Lebih baik mana,
muslimah yang berjilbab tapi bekelakuan buruk, atau muslimah biasa tak
berjilbab tapi kelakuannya baik?”
Kembali pertanyaan ini diulangi agar lebih jelas
memaknainya. Poin kedua yang disinggung dalam pertanyaan tersebut adalah soal
perilaku atau dalam kata lain adalah tentang akhlak. Maka sama dengan persoalan
jilbab tersebut, kedudukan akhlak ini harus ditimbang secara adil melalui
dalil. Rasullullah shollallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang
paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi)
Dari kedua hadits yang shahih ini telah cukup
memberikan pengertian kepada kita bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan dan
menganjurkan akhlaqul karimah (akhlak yang mulia) kepada para pemeluknya. Maka
setiap muslim maupun muslimah wajib berbuat baik kepada siapa saja sebagai
konsekuensi berislamnya dia dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Maka sesungguhnya mengajukan pertanyaan, “Manakah yang
lebih baik, muslimah yang berjilbab tapi bekelakuan buruk, atau muslimah biasa
tak berjilbab tapi kelakuannya baik?” adalah tidak apple to apple.
Pertanyaan ini tidak bisa begitu saja dibandingkan karena pertanyaan ini saling
membenturkan antara yang haq dan yang bathil. Berjilbab dan berakhlak baik
adalah perintah Allah. Sedangkan meninggalkan jilbab dan berakhlak buruk adalah
tidak disukai Allah. Semestinya semua hal ini harus dilakukan dan diamalkan
bersamaan. Muslimah itu harus berjilbab dan berakhlak baik serta harus berusaha
sekuat mungkin untuk tidak berperilaku tercela.
Melalui sebuah ilustrasi ringan, coba Anda bayangkan.
Anda adalah seorang desainer ruangan profesional dan sedang membutuhkan hiasan
bunga segar yang indah warnanya dan harum baunya untuk mempercantik ruangan.
Lalu seseorang menawarkan dua bunga pada Anda, yang pertama bunga itu berwarna
indah dan cantik namun sayang sekali baunya busuk. Bunga yang kedua harumnya
semerbak, namun sayang sekali bunga itu sudah layu, tak mempesona sama sekali.
Lalu, apakah sebagai seorang ahli yang professional akan memilih salah satu
dari bunga tersebut? Tentu Anda tak membutuhkan keduanya.
Jadi, agama Islam ini mengajarkan untuk menjadi sebuah
bunga yang indah mempesona dengan aroma harumnya yang semerbak. Islam ini
membutuhkan muslimah yang rapi dengan jilbabnya dan mulia dengan akhlaknya.
Duhai muslimah, janganlah setengah-setengah dalam mengamalkan Islam. Percayalah
semua perintah dari-Nya adalah baik untukmu.
“Tapi lihat itu dia berjilbab namun masih juga suka
mencela!”
“Yang sudah berjilbab saja masih bisa mencela, apalagi
yang tidak berjilbab?
Nah para Muslimah dari semua hal diatas,bukanlah suatu
permasalahan jika kita sudah berjilbab namun masih melakukan dosa atau
pelanggaran, karena InsyaAllah jika kita sudah berjilbab dalam artian
menunaikan kewajiban sebagai Kaum Muslimah dengan ikhlas karena Allah SWT.
perlahan kita dapat merubah Akhlak kita untuk menjadi lebih baik atas izin dan
kehendak-Nya dan usaha kita sendiri.
Wallahua’alambishawab...
ENGGAN BERJILBAB HANYA KARENA BELUM SIAP ?
KEWAJIBAN
BERJILBAB BUKAN MASALAH BELUM SIAP ATAU PILIHAN SENDIRI
KEWAJIBAN
MENGENAKAN JILBAB
Allah Ta’ala berfirman,
“Hai Nabi,
katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayan g.” (QS.Al
Ahzab: 59).
Jilbab bukanlah
penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah
memakai khimar.Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga berfirman,
Allah Ta’ala juga berfirman,
“Katakanlah
kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya .” (QS. An Nuur [24] : 31).
Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar,Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14).
Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian .” (HR. Muslim no. 2128).
Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj SyarhShahih Muslim, 17: 190-191).
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik.
BELUM MAU BERJILBAB
Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar,Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14).
Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian .” (HR. Muslim no. 2128).
Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj SyarhShahih Muslim, 17: 190-191).
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik.
BELUM MAU BERJILBAB
Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki?
Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalanhati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan”
Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas?
Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan!
Beralasan belum
siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing?
Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.”
Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.”
BERALASAN LAGI KARENA BELUM SIAP BERJILBAB?
Kami jawab,
“Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa
nanit jika sudah pipi keriput dan rambutubanan? Inilah was-was dari setan
supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda
berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidaktahu besok kita masih di dunia ini
ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau
semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda
untuk berjilbab.”
Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan,
“Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu .” (HR. Bukhari no. 6416).
adits ini
menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita
sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh.
Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpanjang angan-angan. Demikian
kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas.
Moga di bulan penuh barokah ini, kita diberi taufik oleh Allah untuk semakin taat pada-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.
Moga di bulan penuh barokah ini, kita diberi taufik oleh Allah untuk semakin taat pada-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.
Wassalamualikum warahmatullahhiwabarakatuh...





0 komentar:
Posting Komentar