Pergaulan adalah fitrah bagi manusia sebagai
makhluk sosial. Manusia membutuhkan interaksi sosial antara satu dengan yang
lain. Mereka saling membutuhkan dan saling tolong-menolong. Mereka bergaul,
berteman, berorganisasi, bersekolah, bekerja. Itulah salah satu aktivitas yang
membutuhkan pergaulan. Dan saat ini yang menjadi fokus pergaulan yang diamati
adalah mengenai pergaulan para remaja saat ini.
Masa remaja sering disebut sebagai masa pubertas.
Masa pubertas adalah masa kelenjar-kelenjar seksual seseorang mulai berfungsi
dengan baik menuju kematangan. Ini mengakibatkan mulai adanya ketertarikan
antara lawan jenis. Fase remaja adalah fase yang paling berat. Kenapa? Karena
dalam fase ini menempatkan remaja pada sisi yang tidak menyenangkan. Mereka
menganggap mereka sudah mampu menyelesaikan masalah, namun orang tua belum
percaya sepenuhnya.
Masa pubertas memiliki ciri-ciri sebagai periode
tumpang tindih karena kedudukan remaja ini berada di antara akhir masa kanak-kanak
dan awal masa remaja. Kemudian periode yang singkat berlangsung dari dua dampak
empat tahun. Periode pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat ini meliputi
perubahan penampilan dan sikap. Dan periode pada fase negatif, di mana individu
mengambil sifat anti terhadap kehidupan. Sikap dan perilaku mereka kadang sulit
diduga dan agak melawan norma sosial.
Fase remaja juga dipandang sebagai masa pencarian
jati diri. Mereka memiliki permasalahan yang kompleks yang kadang membuat
mereka stress dan bigung. Perkembangan yang terjadi pada masa remaja adalah
keinginan untuk diperhatikan, ingin dikasihi. Sehingga dalam keseharian mereka,
ketika dalam keluarga dia tidak memperoleh perhatian yang diharapkan, maka
mereka akan mencarinya dalam pergaulan dengan teman-temannya. Mereka suka
menghabiskan bersama seharian. Apalagi jika mereka memiliki hobi yang sama.
Masa remaja juga sebagai masa peralihan dan perubahan.
Namun pergaulan remaja saat ini sangatlah
mengkhawatirkan. Karena pergaulan saat ini sangatlah bebas tanpa adanya aturan.
Seperti kita lihat yang terjadi dewasa ini. Dunia remaja rentan mengikuti
segala macam aktivitas yang sedang trend saat ini seperti :
a. Nge-gank
Yaitu berkumpulnya seseorang dengan membentuk
kelompok sendiri, dengan kriteria tertentu. Beberapa contah macam-macam gank
yang ada adalah Music Hous, Boys Band, Funk, dan
lain sebagainya. Di mana kita tahu bahwa gank memiliki sisi negatif antara
lain: pergaulan menjadi semakin terbatas, membela teman sendiri walaupun teman
tersebut salah, ikut hal-hal yang negatif seperti tawuran, minum-minuman keras,
kurang peduli dengan lingkungan di luar gank. Juga ada beberapa hal
positifnya yaitu membuat hidup lebih kreatif, menolong teman, dan saling curhat
dan menasihati teman yang salah.
Meskipun juga ada sisi baik dari gank,
namun kadang sisi negatif lebih mendominasi dan itu cukup riskan dan
mengkhawatirkan.
b. Seks Bebas
Seks bebas pada zaman sekarang, biasanya berawal
dari pacaran para remaja saat ini. dengan alasan bahwa masa pacaran adalah masa
untuk saling mengenal, namun pacaran saat ini telah disalahgunakan untuk
melakukan hal yang tidak pantas. Di era globalisasi saat ini hubungan pra nikah
bukan hal yang tabu, malah menjadi hal yang wajar. Ini terjadi dikarenakan
lemahnya nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi alat kontrol para remaja.
Kebebasan seks inipun juga mengakibatkan terperosoknya para remaja pada
mengkonsumsi obat-obatan terlarang, terjerumus pada hingar bingar musik dan
hiburan dan bacaan yang justru meliarkan mereka dalam berfntasi dan
berimajinasi.
Padahal kita berada di negara yang mayoritas
Islam. Dan dalam Islam telah dijelaskan bagaimana adab pergaulan yang baik yang
berdasarkan Firman Allah swt dalam surat An-Nur ayat 30:
قُل لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذَالِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ اَللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang
beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya;
yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nur : 30)
Ayat tersebut diatas memerintahkan kepada kaum
pria untuk menjaga pandangan mereka, memandang lawan jenis dengan wajar
sehingga tidak menimbulkan nafsu syahwat. Bukan menyuruh untuk memejamkan mata
ketika bertemu perempuan, tetapi memelihara diri dari hal-hal yang dapat
merangsang nafsu syahwat terhadap perempuan yang dipandang itu.
Perintah menundukkan pandangan dan larangan
memandang lawan jenis itu juga ditunjukkan kepada wanita sebagaimana dalam
surat An-Nur ayat 31 :
َقُل لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصٰرِ هِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلاَيُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّ وَلاَيُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ أَوْءَابَآئِهِنَّ أَوْءَابَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ إِخْوٰنِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمٰنُهُنَّ أَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ أُوْلِى الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَآءِ وَلاَيَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ وَتُوبُوآ إِلَى اَللَّهِ جَمِيْعًا أَيُّهَ اَلْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman:
“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami
mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka,
atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau
budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur :31)
Sehubungan dengan masalah pandang memandang
seorang sahabat yang bernama bertanya kepada Rasulullah saw.
سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي
Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu
’alaihi wasallam dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja). Maka beliau memerintahkanku
untuk memalingkan pandanganku. (HR. Muslim)
Ayat dan hadits di atas mengharuskan kita untuk
selalu menjaga kesucian hubunga pria dan wanita. Mengarahkan hubungan pria dan
wanita agar terhindar dari fitnah dunia. Menghindarkan mereka dari perbuatan
mungkar dan keji.
Namun, menurut para remaja saat ini cara seperti
yang telah diterangkan diatas dianggap kolot, ketinggalan zaman, membatasi diri
dari kebebasan yang ada. Akan tetapi, seharusnya kita sadar bahwa tujuan hidup
kita adalah mengharap kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bukan untuk mencari
kepuasan saja. Jika kita hanya menuruti kepuasan diri maka yang kita dapat
adalah penyesalan yang berkepanjangan. Sudah banyak contoh yang kita lihat,
karena keinginan untuk memuaskan kehendak banyak dari mereka malah meringkuk
dalam penjara. Ini baru hukuman di dunia belum di akhirat kelak.
Dalam islam juga dijelaskan hubungan antara pria
dan wanita dilarang berduaan tanpa adanya muhrim diantara mereka. Sebagaimana
sabda Nabi Muhammad saw yang artinya :
“Jangan sekali-kali bersepi-sepian seorang
pria dan wanita kecuali bersama muhrimnya.” (Mutafaqun alaihi).
Hadist tersebut sebagai landasan untuk menetapkan
etika pegaulan antara pria dan wanita yang halal menikah. Larang tersebut
mempunyi tujuan yang sama terhadap perintah untuk menjaga pandangan mata, ini
juga demi keselamtan muda mudi itu sendiri.
Kalau saling pandang memandang dengan nafsu
syahwat dilarang, maka berduaan lebih dilarang lagi, karena itu lebih
mendekatkan pada perzinaan. Sebagaimana Firman Allah swt tentang larangan
mendekati zina apalagi untuk melakukannya.
وَلاَ تَقْرَبُوْا الزِّنٰۤى إِنَّهُ كَانَ فٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيْلاً
Dan janganlah kamu mendekati zina;
Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang
buruk. (QS. Al-Israa’ : 32).
Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, maka
diharapkan wanita selalu bersama muhrimnya, paling tidak mereka harus disertai
orang lain agar terhindar dari dosa besar dan fitnah dunia itu.
Pergaulan seperti ini dianggap sinis oleh para
muda-mudi remaja. Menganggap pergaulan ini ketinggalan zaman dan membatasi
gerak mereka. Namun alangkah baiknya orang tua untuk mengarahkan para remaja
saat ini untuk memberi pengertian bahwa norma seperti ini adalah baik untuk
mereka. Agar mereka terhindar dari arus dosa yang semakin merajalela. Menjadi
budak nafsu dengan arus global yang meniru pergaulan ala barat.
Sedangkan pergaulan remaja saat ini biasanya
dibumbui dengan pacaran. Lalu apa itu pacaran? Dan mengapa banyak dari para
agama-wan melarang adanya pacaran sebagai hubungan yang dilakukan menuju
gerbang pernikahan? Menurut Iip wijayanto pacaran adalah sebuah hubungan yang
dibangun atas dasar komitmen, berangkat dari rasa cinta untuk memiliki
(memonopoli) seluruh potensi yang dimiliki pasangannya. Sambil berproses menuju
ke level yang lebih serius. Bisa diteruskan untuk menikah atau berakhir
(berpisah).
Namun, dalam Islam untuk menuju pernikahan,
bukanlah dengan praktek pacaran, tapi dengan ta’aruf. Dalam ta’aruf di
sini kedua belah pihak antara pria dan wanita saling mengenal, untuk mengetahui
karakter masing-masing. Jika ada kecocokan maka akan dilanjutkan dengan khitbah
(lamaran). Jika tidak, maka akan berhenti. Di sini dalam ta’aruf tidak ada
ikatan seperti pengertian pacaran yang dipaparkan di atas.
Islam mengajarkan bahwa pergaulan dengan lawan
jenis adalah sunnatullah, karena Allah menciptakan pria dan wanita untuk saling
mengenal. Namun alangkah baiknya mereka dibekali pengetahuan bagaimana cara
pergaulan yang baik, sehingga dalam pergaulan itu mengantarkan pada kebaikan
dan bisa bernilai ibadah.
Jadi adab pergaulan yang baik dalam prespektif
islam agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang tidak diingankan seperti zinaa
atau maksiat lainnya. Maka perlu adanya adab yang mengatur hubungan antara
laki-laki dan perempuan yaitu :
a. Pembatasan tempat pertemuan
c. Tidak berjabatan tangan dengan yang bukan
mukhrim
d. Menghindari tempat yang berdesak-desakan
e. Tidak berkhlawat
f. Bagi perempuan janganlah berpakaian yang terlau ketat, sehingga menimbulkan rangsangan syahwat yang melihat bentuk tubuhnya.
Hendaknya
para wanita menutup aurat seperti yang telah disinggung dalam Al-Quran.
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab:59)
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab:59)
g. Membatasi diri ketika berbicara, artinya
jangan berbicara hal-hal yang mengairahkan laki-laki, atau mengeluarkan suara
yang menimbulkan birahi.
Untuk itulah sangat penting bagi para orang tua
untuk mengarahkan anak-anak mereka tentang adab bergaul yang baik. Masa remaja
adalah masa yang paling rentan, keinginan untuk mencoba hal-hal yang baru itu
sangat besar, sehingga diperlukan adanya bimbingan dari orang tua untuk
memgingatkan dan menjelaskan mana hal yang perlu dilakukan dan dihindari. Orang
tua harus berperan aktif membimbing anak-anak mereka, membekali mereka dengan
pengetahuan agama yang kuat agar terhindar dari arus globalisasi yang semakin
mengikis adab yang ada di negara ini
sumber : http://bersamadakwah.net/adab-pergaulan-dalam-prespektif-islam/
sumber : http://bersamadakwah.net/adab-pergaulan-dalam-prespektif-islam/


0 komentar:
Posting Komentar