Sahabat dunia islam, Imam al-Ghazali dalam Ihya’
Ulumuddin menuliskan bahwa pada suatu hari datanglah seorang yang telah
kehilangan semangat kepada seorang hakim. Lantas dia menanyakan tentang mengapa
ada seorang yang bodoh tetapi mendapat rezeki yang layak. Sedangkan, di sisi
lain, ada seorang yang mempunyai otak cemerlang tetapi tidak mendapat rezeki
yang layak.
Mendengar pertanyaan itu, sang hakim menjawab
sebagai berikut, “Jika setiap orang yang mempunyai otak cemerlang mendapat
rezeki yang layak, dan setiap orang yang bodoh tidak mendapat rezeki yang
layak, maka akan timbul sebuah asumsi bahwa seorang yang mempunyai otak
cemerlang dapat memberikan rezeki kepada temannya. Akibatnya, setelah orang
lain tahu dan berpandangan bahwa yang dapat memberi rezeki itu adalah temannya
sendiri, maka tidak ada artinya usaha yang mereka lakukan untuk mendapat rezeki tersebut.”
Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah dari
tiga hal lainnya, yaitu umur, jodoh, dan kematian. Ia tidak dapat dikalkulasi
dengan nalar manusia.
Allah SWT telah menjamin rezeki setiap
makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan
rezeki masing-masing. Oleh karena itu, selayaknyalah kita tidak perlu cemas
mengenai rezeki. Persoalan rezeki telah diatur oleh Allah SWT.
Ada empat tingkatan cara Allah memberi
rezeki.
Pertama, rezeki tingkat pertama
(yang dijamin oleh Allah), “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di
atas bumi ini melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya,” (QS Hud [11]: 6).
Artinya, Allah akan memberi kesehatan, makan, dan minum untuk seluruh makhluk
hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yang terendah.
Kedua, rezeki tingkat kedua,
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,” (QS an-Najm
[53]: 39). Allah akan memberi rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakan
hambanya. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih
sungguh-sungguh, ia akan mendapat lebih banyak. Tidak pandang dia itu Muslim
atau kafir.
Ketiga, rezeki tingkat ketiga,
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,
tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangatlah berat.”
Inilah rezeki yang disayang Allah. ( baca juga : Bersyukur
Adalah Amalan Pembuka Rizki Dan Nikmat Berikutnya )
Keempat, rezeki tingkat keempat
(selalu berusaha dan ikhtiar)“ Barang siapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa
yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)Nya….(QS
ath-Thalaq [65]: 2-3).
Hal penting yang perlu dilakukan sebagai manusia
yang diberi akal budi, kita tetaplah harus berikhtiar, berusaha untuk mendapat
rezeki itu. Terlepas nanti apakah rezeki kita banyak atau tidak, itu
dikembalikan kepada Allah. Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar
membangun kesempatan untuk berhasil.
Haruslah yakin bahwa ikhtiar itu bukan penyebab
datangnya rezeki, tapi rezeki itu datangnya dari Allah. Untuk mendapat rezeki
ada Kunci
pembuka rezeki, maka berusaha dan menjemput rezeki itu juga penting.
Selamat menjemput rezeki, semoga berkah.(5/1)*

0 komentar:
Posting Komentar