Tahukah anda bahwa ada 4 nabi yang hingga kini masih hidup?
Nabi Isa as
Al-Qur’an menerangkan dalam surat AnNisaa’:157
bahwa Nabi Isa AS tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang Kafir.
Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh
Allah SWT seperti Nabi Isa AS (sebagian ulama berpendapat orang yang
diserupakan adalah muridnya yang berkhianat yang bernama Yudas Iskariot) dan
karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh AlMasih, Isa putra
Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula)
menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa
bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang
(pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali
mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh
itu adalah Isa. (An Nisaa’ : 157)
Nabi Isa AS diselamatkan oleh Allah SWT dengan jalan
diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang
tahu tentang hal ini. AlQur’an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini.
”Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ :158).
Nabi Khidir Alaihissalam
Nabi Khidir Alaihissalam
Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas
bumi menuju ke tepi bumi, Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang bernama
Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan
mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat
Rofa’il: “Wahai malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku tentang ibadah para
malaikat di langit ”,
malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada
yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk
tidak mengangkat kepala selama-lamanya ”.
Kemudian raja berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup
bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah ”.
Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber
air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang berarti, sumber air hidup. Maka barang
siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau
sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan ”.
Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat
“Ainun Hayat itu?”.
mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun
Hayat itu berada di bumi yang gelap ”.
Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul
hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja
bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu, tetapi mereka menjawab, “Kita
tidak tahu khabarnya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, “
Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata
bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap ”.
“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja.
Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.
Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya
kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap
?”.
Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu
raja memilih-milih di antara tentaranya, sebanyak 6000 orang dipilih yang
cendikiawan dan yang ahli mencambuk.
Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS, bahkan beliau menjabat sebagai
Perdana Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir AS berjalan di
depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya
matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12
tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu
memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian seorang
yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan
tentara-tentaranya, berkata ia kepada raja. ”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja
yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang
gelap ini berbahaya. ”
Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak
boleh tidak.”
Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya.
Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: ”Diamlah, tunggulah kalian ditempat
ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu,
maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang
sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”.
Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati
tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ?”.
“Tidak bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu
sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut
dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan- kawan
kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”
Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama
sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari
tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang,
tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan
didampingi oleh Nabi Khidlir AS.
Di saat mereka berjalan, maka Allah SWT memberi wahyu keapda Nabi Khidlir
AS, ”Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan
Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu ”.
Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata
kepada sahabat-sahabatnya: “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing
dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada
kalian. ”
Kemudian beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, maka didapatilah
oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir AS
turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul
Hayat” (sumber air kehidupan) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber
air kehidupan tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada
madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau
keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain,
sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi Khidlir AS,
tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.
(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata,
bahwa Nabi Khidlir AS adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan
raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40
hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja,
bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki
kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: “Gemercik ini adalah
suara benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan
apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga. ”
Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah
mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah
yakut yang berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau, maka menyesallah
pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula
pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal. Diriwayatkan oleh
Ats-tsa’Labi dari: Iman Ali Rodliayllohu ‘ anhu.
1. Cerita ini dikutib dari kitab “ Baidai’iz karangan
Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168. Penerbit: Usaha Keluarga
s Semarang.
2. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.
Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 – 258.
Nabi Idris Alaihissalam
2. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.
Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 – 258.
Nabi Idris Alaihissalam
Lalu keduanya menerusakan perjalanan sampai empat hari lamanya dan selama
itu pula Nabi Idris AS menemukan keanehan yang ada pada Malaikat itu dan Nabi
Idris AS bertanya: ”Hai tuan, kamu ini sebenarnya siapa?”,
Malaikat itu menjawab: ”Saya adalah malaikat pencabut
nyawa”.
Nabi Idris AS bertanya:” Apakah kamu akan mencabut
nyawa manusia?”,
Malaikat menjawab:”Ya”,
Nabi Idris AS bertanya: ”Apakah kamu juga mencabut
nyawa selama dalam perjalanan bersama saya?”,
Malaikat menjawab: ”Ya, saya telah mencabut beberapa nyawa manusia dan sesungguhnya nyawa manusia itu adalah bagaikan hidangan makanan, sebagai mana kamu menghadapi sesuap makanan saja”.
Nabi Idris AS berkata: ”Dan apakah kamu datang ini
untuk mencabut nyawa saya atau sekedar berkunjung?”,
Malaikat menjawab: ”Saya datang hanya untuk
berkunjung”,
Nabi Idris AS berkata: ”kalau begitu saya punya hajat
kepadamu”,
Malaikat menjawab: ”Hajat apa, hai Nabi Idris?”
Nabi Idris AS berkata: ”Saya ingin agar kamu mencabut nyawa saya, lalu
memohonlah kepada Allah untuk menghidupkan saya sehingga saya bisa beribadah
kepada Allah sesudah merasakan sakitnya mati”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa mencabut
nyawa seseorang tanpa seijin Allah”.
Lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Cabutlah
nyawa Idris!”.
Kemudian malaikat itu mencabut nyawa Nabi Idris AS dan matilah Nabi Idris
AS lalu Malaikat menangis sambil merendahkan diri untuk memohon kepada Allah
SWT agar menghidupkan Nabi Idris AS kembali, kemudian Allah menghidupkan Nabi
Idris AS, lalu malaikat bertanya: ”Hai Nabi Idris bagaimana rasanya mati itu?”.
Nabi Idris AS berkata:”Sungguh rasanya mati itu bagaikan binatang yang
dikuliti dalam keadaan masih hidup, sedang rasa mati itu melebihi 100X lipat
rasa sakit binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup”.
Malaikat menjawab:”Hai Nabi Idris, padahal saya mencabut nyawamu itu dengan
cara hati-hati dan sangat halus dan ini belum pernah saya lakukan kepada
siapapun”.
Nabi Idris AS berkata: ”Saya mempunyai hajat yang lain kepadamu, yaitu
ingin melihat neraka jahannam, agar saat melihat itu saya lebih banyak
beribadah kepada Allah”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa masuk neraka jahannam tanpa ada
izin dari Allah”, lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Pergilah kamu
bersama Nabi Idris ke neraka jahannam”.
Kemudian malaikat bersama Nabi Idris AS pergi ke neraka jahannam, maka Nabi
Idris AS dapat melihat segala yang dipersiapkan untuk menyiksa di neraka
jahannam, lalu keduanya kembali dari neraka jahannam. Nabi Idris AS berkata:
”Saya punya hajat lagi kepada kamu, agar kamu mengajakku pergi ke syurga,dan
setelah itu saya akan menjadi hamba yang lebih taat dalam beragama”. Malaikat
berkata: ”Saya tidak bisa masuk syurga tanpa ada ijin dari Allah”.
Lalu Allah AS berfirman: ”Hai Malaikat pergilah kamu
bersama Idris ke syurga”.
Dan keduanya pergi ke syurga dan berhanti di depan pintu syurga, maka Nabi
Idris AS dapat melihat segala kenikmatan yang ada dalam syurga, melihat
kerajaan yang banyak, melihat anugerah yang banyak dan melihat pepohonan dan
buah-buahan yang beraneka macam ragamnya.
Nabi Idris berkata: ”Wahai Malaikat, saya telah merasakan mati, telah
melihat segala macam siksaan dalam neraka, lalu mohonlah kepada Allah, agar ia
memberi izin saya masuk ke syurga, sehingga saya dapat minum air syurga dan
sakit saya menjadi hilang serta terhindar dari neraka jahannam”.
Lalu Allah Berfirman kepada malaikat: ”Masuklah kamu ke syurga bersama
Idris”, kemudian keduanya masuk syurga dan Nabi Idris AS meletakan sandalnya di
bawah salah satu pohon di syurga, dan setelah keluar dari syurga.Nabi Idris
berkata kepada Malaikat: ”Sungguh sandal saya tertinggal di syurga, maka
kembalikan saya ke syurga”, dan setelah Nabi Idris AS tiba di syurga, Nabi
Idris AS tidak mau di ajak keluar, ia ingin tetap tinggal dalam syurga, hingga
Malaikat berteriak:”Hai Nabi Idris, keluarlah”, dan Nabi Idris AS tetap
tidak mau keluar, dan berkata: ” Karena Allah telah berfirman”: “Tiap-tiap yang
berjiwa akan merasakan mati…”(Q.Surat Ali’imran ayat 185), Sedang saya telah
merasakan mati.
Dan Allah Berfirman: “Dan tidak seorangpun darimu, melainkan mendatangi
neraka itu….” (Q.Surat Maryam ayat 71). Dan sungguh saya telah memasuki neraka
jahannam, dan Allah juga berfirman: “…….. dan sekali-kali mereka tidak akan di
keluarkan dari padanya (syurga)”. (Q.Surat AL Hijr ayat 48)”.
Malaikat berkata: ”Lantas siapa yang akan mengeluarkan
mu?”.
Lalu Allah berfirman kapada Malaikat: ”Tinggalkanlah Nabi Idris di syurga,
sungguh Aku telah menetapkannya, bahwa ia termasuk ahli syurga”,kemudian
Malaikat itu meninggalkan Nabi Idris AS di syurga dan tetaplah Nabi Idris AS
berada dalam syurga untuk selama-lamanya.
Nabi Ilyas Alaihissalam
Ketika sedang beristirahat datanglah Malaikat kepada Nabi Ilyas AS,
Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Nabi Ilyas AS
menjadi sedih dan menangis.
“ Mengapa engkau bersedih?” tanya Malaikat maut.
“ Tidak tahulah.” Jawab Nabi Ilyas AS.
“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia
dan takut menghadapi maut ?” tanya Malaikat.
“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak
boleh lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berzikir
memuji Allah, ” jawab Nabi Ilyas AS.
Saat itu Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat agar menunda
pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berzikir
sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas AS ingin terus hidup semata-mata karena
ingin berzikir kepada Allah SWT. Maka berzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang
hidupnya.
“ Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir
kepada-Ku sampai akhir nanti. ” Firman Allah SWT.
Ihwal Nabi Ilyas kurang banyak diungkap, namun diyakini bahwa beliau masih
hidup di dunia bersama Nabi Khidir, Nabi Ilyas AS adalah keturunan Nabi Harun
yang Ke empat, ia di utus Allah kepada kaum Bani Israel yang suka menyembah
berhala, yang di sebut “Berhala Ba’al.”
Sebuah riwayat menyebutkan, Nabi Ilyas Al-Nasyabi, yang mendapat panggilan Ibnu Yasin, di yakini masih hidup di Bumi. bersama Nabi Khidir. Sedangkan Nabi Isa dan Nabi Idris juga masih hidup di langit.
Ilyas dan Khidir saling berkumpul pada saat bulan Ramadhan di Baitulmakdis. Keduanya mengerjakan ibadah haji di Padang Arafah dan minum air Zamzam.
Dalam suatu perjalanan bersama Rasul SAW, di suatu lembah, Anas bin Malik mendengar seseorang berkata, “Ya Allah, jadikanlah aku salah satu dari umat Muhammad yang di cintai, diberi ampunan, dan diterima tobatnya.” Selanjutnya Anas berkisah…:
Kudekati lembah itu, dan ternyata ada seseorang di sana. “Siapa kamu?” dia bertanya. “Anas bin Malik, aku pelayan Rasul,” jawabku.
“Dimana beliau?” ia bertanya lagi. “Ada di sini, beliau mendengar ucapanmu,”
jawabku.
“Temuilah beliau, dan sampaikan salamku, katakan padanya, “Saudaramu, Ilyas, menyampaikan salam,” katanya.
“Temuilah beliau, dan sampaikan salamku, katakan padanya, “Saudaramu, Ilyas, menyampaikan salam,” katanya.
Maka kuberitahukan hal itu kepada beliau, kemudian Rasulullah SAW menemui, memeluk dan mengucapkan salam kepadanya. Setelah itu keduanya duduk dan berbincang-bincang.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak makan dalam setahun kecuali hanya
satu hari. Di hari ini adalah hari berbukaku, aku akan makan bersamamu.”
Maka turunlah meja makan dari langit yang di atasnya terdapat roti, ikan laut dan daun seledri. Lalu mereka berdua makan dan juga memberiku makan, lalu kami salat ashar. Setelah Ilyas meninggalkan Rasulullah dan aku melihat lintasan perjalanannya di awan menuju langit.
Maka turunlah meja makan dari langit yang di atasnya terdapat roti, ikan laut dan daun seledri. Lalu mereka berdua makan dan juga memberiku makan, lalu kami salat ashar. Setelah Ilyas meninggalkan Rasulullah dan aku melihat lintasan perjalanannya di awan menuju langit.
Sebuah riwayat menyebutkan, hal itu terjadi dalam perang tabuk, ketika Rasulullah mengutus Anas bin Malik dan Hudzaifah bin Al-Yaman menemuinya. Keduanya mengatakan, “ternyata ia seorang yang berbadan dua atau tiga hasta lebih tinggi dari kami.”
Ketika Rasul berkumpul dengan Ilyas, keduanya makan makanan dari surga. Ilyas berkata, “setiap 40 hari saya baru makan.” Sedangkan di Meja makan Itu terdapat Roti, Anggur, pisang, Kurma, dan sayur-sayuran selain bawang.
Rasulullah bertanya perihal Khidir, maka ia menjawab, “Sesungguhnya engkau akan bertemu dengannya sebelumku, maka sampaikan salamku untuknya.”
Pengalaman Tsabit, salah seorang sahabat, menyebutkan, ketika ia sedang salat sunah di pinggir kota Kufah bersama Mush’ab bin Zubair, tiba-tiba dari belakang terdengar suara, “jika kamu membaca Ghafirudz Dzanbi (yang menghapuskan dosa), ucapkanlah, “Wahai Dzat yang menghapuskan dosa, ampunilah aku atas dosa-dosaku.”
Jika kamu membaca Qarbilut Taubati (yang menerima Taubat), ucapkan, “Wahai Dzat yang menerima taubat, terimalah tobatku.”
Jika kamu membaca Syadiul Iqabi (yang keras hukuman-Nya), “Wahai Dzat yang keras
hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.”
Dan jika kamu membaca Dzat Tuuli (yang mempunyai karunia), ucapkan, “Wahai
Dzat yang karunia, keruniakanlah kepadaku rahmat dalam waktu yang lama.”
Ketika itu ia membaca surat Al-Mukmin ayat 1-3, yang artinya, “Ha Mim, turunnya kitab (Al-Qur’an) ini dari Allah, yang Maha Perkasa, yang Maha Mengetahui. Yang menghapuskan dosa, yang menerima Tobat, amat keras hukuman-Nya, dan besar kekuasaan-Nya. Tiada Tuhan selain Dia, kepada-Nya lah tujuan kembali,”
Setelah itu aku menoleh dan ternyata tidak menemukan seorang pun di belakangku. Lalu aku keluar dan bertanya kepada orang-orang. “Apakah orang yang melintas di depan kalian menaiki seekor keledai yang besar?”
Mereka menjawab, “Tidak ada orang yang melintas di sini,” dan mereka tidak mengetahui melainkan Ilyas.
Ilyas adalah Nabi yang ke 17. Ia di utus untuk menyadarkan penduduk Ba’albak atau Punicia yang menyembah berhala Ba’al. Negaranya terletak di bagian pantai Arab Utara, tapi ada yang menyebut sebelah barat Damaskus sekarang. Bangsa Punicia adalah bangsa pelaut. Di wilayah Libanon ditemukan bangunan altar penyembahan Ba’al yang disebut Heliopolis.
Nama Ilyas disebut dua kali dalam surat Al-An’am ayat 85, bersama dengan Nabi Zakaria, Yahya, dan Isa , sebagai orang-orang yag saleh, dan Surah As-Saffat ayat 123, sebagai orang yang di utus oleh Allah.
Surah As-Saffat ayat 123-130 mengungkapkan tugas dakwah Nabi Ilyas dalam menyeru kaumnya bertauhid, menyembah hanya kepada Allah.
“Apakah kamu tidak takut pada siksaan Allah? Kenapa kamu menyembah berhala Ba’al dan mengabaikan Allah?” seruan itu dijawab, “Kami sudah sejak lama menyembah Ba’al, sejak nenek moyang kami, oleh karena itu kami tidak bisa meningglkan begitu saja.”
Karena penolakan itu, Allah menurunkan azab, kecuali orang-orang yang menerima seruan Ilyas, berupa musim kering selama tiga tahun berturut-turut, sehingga mereka kelaparan, karena tanaman dan ternak mereka rusak. Akhirnya mereka menerima ajakan Ilyas, tetapi setelah kehidupan kembali normal, mereka mengulang menyembah berhala.
Nabi Ilyas selalu dikejar dan dicari-cari oleh kaumnya untuk dibunuhnya. Oleh karena itu Nabi Ilyas lari menghindar untuk menyelamatkan diri, bersembunyi di rumah-rumah yang sepi dan kosong.
Akhirnya orang-orang mengetahui, setiap mereka memperoleh makanan dalam
sebuah rumah, mereka mengatakan, “Pasti rumah ini sudah di masuki oleh Ilyas.”
Melihat kenyataan itu, Ilyas memohon kepada Allah agar tugasnya di akhiri, dan beliau pun wafat. Tugasnya diteruskan oleh Nabi Ilyasa’ keponakannya sendiri. Tapi ada riwayat yang menyebutkan, Ilyasa’ adalah anak seorang perempuan Bani Israel tempat Ilyas menyembunyikan diri dari kejaran umatnya yang tetap durhaka. Dia mempunyai seorang anak laki-laki, bernama Ilyasa’, yang penyakitan. Setelah disembuhkan Ilyas, Ilyasa’ menjadi pengiring setia Ilyas.
Nama Ilyasa’ disebut dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surah Shad ayat 48 dan Surah Al-An’am ayat 86. Ia termasuk dalam daftar Nabi Bani Israel.
Melihat kenyataan itu, Ilyas memohon kepada Allah agar tugasnya di akhiri, dan beliau pun wafat. Tugasnya diteruskan oleh Nabi Ilyasa’ keponakannya sendiri. Tapi ada riwayat yang menyebutkan, Ilyasa’ adalah anak seorang perempuan Bani Israel tempat Ilyas menyembunyikan diri dari kejaran umatnya yang tetap durhaka. Dia mempunyai seorang anak laki-laki, bernama Ilyasa’, yang penyakitan. Setelah disembuhkan Ilyas, Ilyasa’ menjadi pengiring setia Ilyas.
Nama Ilyasa’ disebut dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surah Shad ayat 48 dan Surah Al-An’am ayat 86. Ia termasuk dalam daftar Nabi Bani Israel.

0 komentar:
Posting Komentar